TUNA
NETRA
A.
Pengertian
Tunanetra adalah gangguan daya penglihatan, berupa kebutaan
menyeluruh atau sebagian, dan walaupun telah diberi pertolongan dengan
alat-alat bantu khusus, mereka masih tetap memerlukan pendidikan khusus.
Pengertian tunanetra menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia
adalah tidak dapat melihat (KBBI, 1989:p.971) dan menurut literatur berbahasa
Inggris visually handicapped atau visual impaired.
Tunanetra dibagi menjadi tiga bagian, yaitu:
-
Buta Total,
yaitu keadaan dimana dua matanya tidak berfungsi yang disebabkan pada kerusakan
pada kornea mata atau pada putusnya syaraf mata
-
Buta Sebagian,
yaitu keadaan dimana satu mata dari seseorang tidak berfungsi dengan baik
dikarenakan kerusakan kornea mata atau terputusnya saraf mata dari orang
tersebut.
-
Low Vision,
yaitu suatu keadaan yang terjadi pada penglihatan seseorang, dimana orang
tersebut tidak dapat melihat wujud asli dari suatu benda melainkan hanya berupa
bayangan yang kabur dan itupun apabila disekitar benda tersebut terdapat banyak
cahaya. Low Vision yang semakin parah akan menyebabkan kebutaan total.
B. Ciri-ciri
-
Tidak mampu melihat
-
Tidak mampu mengenali orang pada
jarak 6 meter
-
Kerusakan nyata pada kedua bola mata
-
Sering meraba-raba/tersandung waktu
berjalan
-
Mengalami kesulitan saat mengambil
benda kecil disekitarnya
-
Bagian bola mata yang hitam berwarna
keruh/bersisik/kering
-
Peradangan hebat pada kedua bola
mata
C. Gejala-gejala
yang dapat diamati dari segi fisik
-
Mata juling
-
Sering berkedip
-
Menyipitkan mata
-
(kelopak) mata merah
-
Mata infeksi
-
Gerakan mata tak beraturan dan cepat
-
Mata selalu berair (mengeluarkan air
mata)
-
Pembengkakan pada kulit tempat
tumbuh bulu mata.
D. Mental Para Tunanetra
Secara psikis anak tunanetra
dapat dijelaskan sebagai berikut :
Intelektual atau kecerdasan
anak tunanetra umumnya tidak berbeda jauh dengan anak normal/awas.
Kecenderungan IQ anak tunanetra ada pada batas atas sampai batas bawah, jadi
ada anak yang sangat pintar, cukup pintar dan ada yang kurang pintar.
Intelegensi mereka lengkap yakni memiliki kemampuan dedikasi, analogi, asosiasi
dan sebagainya. Mereka juga punya emosi negatif dan positif, seperti sedih,
gembira, punya rasa benci, kecewa, gelisah, bahagia dan sebagainya.
E.
Hubungan Sosial Para Tunanetra
1.
Hubungan sosial yang pertama terjadi
dengan anak adalah hubungan dengan ibu, ayah, dan anggota keluarga lain yang
ada di lingkungan keluarga. Kadang kala ada orang tua dan anggota keluarga yang
tidak siap menerima kehadiran anak tunanetra, sehingga muncul ketegangan, gelisah
di antara keluarga. Akibat dari keterbatasan rangsangan visual untuk menerima
perlakuan orang lain terhadap dirinya.
2.
tunanetra mengalami hambatan dalam
perkembangan kepribadian dengan timbulnya beberapa masalah, antara lain:
-
Curiga
terhadap orang lain. Akibat dari keterbatasan rangsangan
visual, anak tunanetra kurang mampu berorientasi dengan lingkungan, sehingga
kemampuan mobilitaspun akan terganggu. Sikap berhati-hati yang berlebihan dapat
berkembang menjadi sifat curiga terhadap orang lain. Untuk mengurangi rasa
kecewa akibat keterbatasan kemampuan bergerak dan berbuat, maka latihan-latihan
orientasi dan mobilitas, upaya mempertajam fungsi indera lainnya akan membantu
anak tunanetra dalam menumbuhkan sikap disiplin dan rasa percaya diri.
-
Perasaan mudah
tersinggung. Perasaan mudah tersinggung dapat
disebabkan oleh terbatasnya rangsangan visual yang diterima. Pengalaman
sehari-hari yang selalu menumbuhkan kecewa menjadikan seorang tunanetra yang
emosional.
-
Ketergantungan
yang berlebihan. Ketergantungan ialah suatu sikap
tidak mau mengatasi kesulitan diri sendiri, cenderung mengharapkan pertolongan
orang lain. Anak tunanetra harus diberi kesempatan untuk menolong diri sendiri,
berbuat dan bertanggung jawab. Kegiatan sederhana seperti makan, minum, mandi,
berpakaian, dibiasakan dilakukan sendiri sejak kecil.
Sumber : http://ulya07.wordpress.com/2009/11/03/penjas-adaptif/#more-35
Tidak ada komentar:
Posting Komentar