Selasa, 12 November 2013

Pengertian Tuna Netra



TUNA NETRA

A. Pengertian
Tunanetra adalah gangguan daya penglihatan, berupa kebutaan menyeluruh atau sebagian, dan walaupun telah diberi pertolongan dengan alat-alat bantu khusus, mereka masih tetap memerlukan pendidikan khusus.
Pengertian tunanetra menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah tidak dapat melihat (KBBI, 1989:p.971) dan menurut literatur berbahasa Inggris visually handicapped atau visual impaired.
Tunanetra dibagi menjadi tiga bagian, yaitu:
-         Buta Total, yaitu keadaan dimana dua matanya tidak berfungsi yang disebabkan pada kerusakan pada kornea mata atau pada putusnya syaraf mata
-         Buta Sebagian, yaitu keadaan dimana satu mata dari seseorang tidak berfungsi dengan baik dikarenakan kerusakan kornea mata atau terputusnya saraf mata dari orang tersebut.
-         Low Vision, yaitu suatu keadaan yang terjadi pada penglihatan seseorang, dimana orang tersebut tidak dapat melihat wujud asli dari suatu benda melainkan hanya berupa bayangan yang kabur dan itupun apabila disekitar benda tersebut terdapat banyak cahaya. Low Vision yang semakin parah akan menyebabkan kebutaan total.
B. Ciri-ciri
-         Tidak mampu melihat
-         Tidak mampu mengenali orang pada jarak 6 meter
-         Kerusakan nyata pada kedua bola mata
-         Sering meraba-raba/tersandung waktu berjalan
-         Mengalami kesulitan saat mengambil benda kecil disekitarnya
-         Bagian bola mata yang hitam berwarna keruh/bersisik/kering
-         Peradangan hebat pada kedua bola mata
-         Mata bergoyang terus
C. Gejala-gejala yang dapat diamati dari segi fisik
-         Mata juling
-         Sering berkedip
-         Menyipitkan mata
-         (kelopak) mata merah
-         Mata infeksi
-         Gerakan mata tak beraturan dan cepat
-         Mata selalu berair (mengeluarkan air mata)
-         Pembengkakan pada kulit tempat tumbuh bulu mata.
D. Mental Para Tunanetra
Secara psikis anak tunanetra dapat dijelaskan sebagai berikut :
Intelektual atau kecerdasan anak tunanetra umumnya tidak berbeda jauh dengan anak normal/awas. Kecenderungan IQ anak tunanetra ada pada batas atas sampai batas bawah, jadi ada anak yang sangat pintar, cukup pintar dan ada yang kurang pintar. Intelegensi mereka lengkap yakni memiliki kemampuan dedikasi, analogi, asosiasi dan sebagainya. Mereka juga punya emosi negatif dan positif, seperti sedih, gembira, punya rasa benci, kecewa, gelisah, bahagia dan sebagainya.
E. Hubungan Sosial Para Tunanetra
1.      Hubungan sosial yang pertama terjadi dengan anak adalah hubungan dengan ibu, ayah, dan anggota keluarga lain yang ada di lingkungan keluarga. Kadang kala ada orang tua dan anggota keluarga yang tidak siap menerima kehadiran anak tunanetra, sehingga muncul ketegangan, gelisah di antara keluarga. Akibat dari keterbatasan rangsangan visual untuk menerima perlakuan orang lain terhadap dirinya.
2.      tunanetra mengalami hambatan dalam perkembangan kepribadian dengan timbulnya beberapa masalah, antara lain:
-         Curiga terhadap orang lain. Akibat dari keterbatasan rangsangan visual, anak tunanetra kurang mampu berorientasi dengan lingkungan, sehingga kemampuan mobilitaspun akan terganggu. Sikap berhati-hati yang berlebihan dapat berkembang menjadi sifat curiga terhadap orang lain. Untuk mengurangi rasa kecewa akibat keterbatasan kemampuan bergerak dan berbuat, maka latihan-latihan orientasi dan mobilitas, upaya mempertajam fungsi indera lainnya akan membantu anak tunanetra dalam menumbuhkan sikap disiplin dan rasa percaya diri.
-         Perasaan mudah tersinggung. Perasaan mudah tersinggung dapat disebabkan oleh terbatasnya rangsangan visual yang diterima. Pengalaman sehari-hari yang selalu menumbuhkan kecewa menjadikan seorang tunanetra yang emosional.
-         Ketergantungan yang berlebihan. Ketergantungan ialah suatu sikap tidak mau mengatasi kesulitan diri sendiri, cenderung mengharapkan pertolongan orang lain. Anak tunanetra harus diberi kesempatan untuk menolong diri sendiri, berbuat dan bertanggung jawab. Kegiatan sederhana seperti makan, minum, mandi, berpakaian, dibiasakan dilakukan sendiri sejak kecil.
                            
Sumber : http://ulya07.wordpress.com/2009/11/03/penjas-adaptif/#more-35

Tidak ada komentar:

Posting Komentar