Ade “Wonder” Irawan, Pianis Tunanetra Kelas Dunia
KOMPAS/LUCKY
PRANSISKA
KEHILANGAN indra penglihatan tidak membuat minder Muhammad
Ade Irawan. Berkat bakatnya yang luar biasa, kini Indonesia punya “Stevie
Wonder” yang jago piano.
LAMPU Auditorium Bentara Budaya, Jakarta, dipadamkan. Sekitar dua ratus penonton yang memenuhi ruangan sontak memelankan suara. Hanya bisik-bisik yang masih terdengar. Namun, begitu Muhammad Ade Irawan, 16, memulai memainkan jari-jemarinya di atas tuts piano, hadirin langsung diam.
LAMPU Auditorium Bentara Budaya, Jakarta, dipadamkan. Sekitar dua ratus penonton yang memenuhi ruangan sontak memelankan suara. Hanya bisik-bisik yang masih terdengar. Namun, begitu Muhammad Ade Irawan, 16, memulai memainkan jari-jemarinya di atas tuts piano, hadirin langsung diam.
Tembang Indonesia Pusaka mengalun syahdu. Iramanya lembut
dan membuat merinding pendengarnya. Sayup-sayup terdengar pengunjung turut
melantunkan lagu gubahan Ismail Marzuki itu.
Resital piano tunggal Muhammad Ade Irawan yang dihelat 24
Juni silam itu memang agak berbeda. Jaya Suprana, sang penggagas resital,
mengemasnya dengan konsep The Darkness. Bos Jamu Jago tersebut menginginkan
penonton tak sekadar mendengar dan menikmati pertunjukan dengan telinga dan
mata, tetapi juga dengan hati.
Karena itu, selama konser semua lampu ruangan dimatikan.
Pengunjung diminta untuk mendengarkan alunan piano Ade dengan mata terpejam dan
lebih dengan hati. Jaya menginginkan penonton merasakan apa yang Ade rasakan,
pianis yang kehilangan penglihatan sejak lahir. Walhasil, begitu lagu selesai
dimainkan, gemuruh tepuk tangan riuh menyambut penampilan Ade. Tidak hanya itu.
Para penonton juga berdiri, memberikan penghargaan kepada sang pianis, Ade
“Wonder” Irawan.
“Kalau Amerika punya Stevie Wonder, Indonesia punya Ade
“Wonder” Irawan. Permainan piano mereka sama-sama luar biasa,” kata Jaya memperkenalkan
penerima anugerah Certificate of Honor Recital Master Class dari Jaya Suprana
School of Performing Arts tersebut.
Malam itu Ade memainkan beberapa lagu “populer”,
seperti Indonesia Pusaka, Chicago Blues, Joy Joy Joy, Tanah Airku, dan
Juwita Malam. Para penonton, Menpora Andi Mallarangeng, dan Menkes Endang
Rahayu Setyaningrum pun larut dalam permainan lincah jari-jemari Ade di
tuts-tuts piano. Bahkan, tak jarang tepuk tangan dan decak kagum diungkapkan
dua menteri Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II itu.
Menurut Jaya Suprana, yang dialami Ade bukanlah kekurangan,
tetapi justru kelebihan yang dianugerahkan Tuhan. Karena cacat fisik itu, Ade
diberi kelebihan lain yang tidak banyak dimiliki orang normal. Dia berharap,
penonton dapat mendukung perjalanan Ade menuju panggung-panggung dunia.
“Kita buktikan kepada dunia bahwa Indonesia tidak kalah
dengan bangsa mana pun. Dan buktikan kepada dunia bahwa ketunanetraan itu bukan
kelemahan, melainkan kelebihan,” ujar Jaya.
Ade yang dilahirkan sebagai tunanetra di Colchester,
Inggris, 15 Januari 1994, merupakan putra pertama pasangan Irawan Subagyo
dan Endang Irawan. Menurut Endang, sang bunda, bakat musik Ade mulai tampak
sejak usia 2,5 tahun. Si balita itu sudah mahir menirukan suara alat-alat musik
dengan mulut. Menginjak usia lima tahun, Ade bahkan sudah bisa memainkan sebuah
lagu dangdut dengan menggunakan kibor mainan bernada lima oktaf.
Ade tidak pernah les piano. Dia belajar sendiri kibor dan
piano serta berbagai jenis musik hanya mengandalkan kepekaan pendengarannya.
Kemahiran yang didapat secara otodidak itu membuat Ade tak mengenal notasi,
bahkan tak tahu jenis nadanya. Semua muncul karena rasa.
“Cara bermain Ade berbeda. Kalau dia ikut les piano, pasti
nggak bakal lulus karena tekniknya pasti salah semua,” kata Endang.
Pada usia 9 tahun, Ade mulai menunjukkan minat khusus
terhadap musik jazz. Terutama setelah Ade sering mendengarkan permainan piano
musikus jazz kawakan Bubi Chen.
Sebagai orang tua, Endang dan Irawan tentu sangat
mendukungan bakat Ade. Mereka percaya, di balik kekurangan fisik Ade, Tuhan
mengirimkan kelebihan yang lain. Endang makin percaya bahwa takdir Ade memang
pemain piano profesional. Sebab, jalan menuju ke sana begitu mudah.
Sebagai seorang diplomat yang kerap ditugaskan di berbagai
negara, Endang begitu bersyukur saat ditugaskan ke Chicago, Amerika Serikat,
pada 2003. Chicago dikenal sebagai kota jazz dan blues. Di sana Endang dan
Irawan memanfaatkan betul setiap momen untuk mengenalkan Ade kepada musik jazz.
Dia rutin mengajak Ade dari kafe ke kafe sekadar untuk
mendengarkan permainan jazz dari musisi lokal. Mereka bahkan tak segan
mengantar Ade untuk ikut audisi. “Kalau pas ngantar Ade audisi, kami ya bawa
sendiri kibor dari rumah ke kafe. Ayah Ade yang masang-masang kabel. Di sana
kami sudah bukan diplomat lagi, tapi pendukung Ade,” kata Endang.
Semua aktivitas itu dimaksudkan sebagai sarana belajar bagi
Ade. Maklum, dia dan suami sama-sama tidak paham musik. Karena itu, cara yang
terbaik ialah memberikan pendidikan musik kepada Ade dengan mengantar dia
kepada para ahlinya. “Yang luar biasa, Ade orangnya disiplin. Meski tidak ada
guru, dia berlatih sendiri minimal dua jam setiap hari,” kata Endang.
Selama di Chicago mulai 2003 hingga 2007, bakat Ade semakin
moncer. Banyak prestasi yang dia ukir. Misalnya, juara lomba cipta lagu
antarsekolah di Negara Bagian Illinois “Reflection” pada 2004-2007. Ade juga
ikut dalam beberapa pertunjukan jazz seperti Chicago Winter Jazz Festival di
Chicago Cultural Center pada April 2006 dan Januari 2007.
Audisi khusus dengan musisi jazz Amerika Serikat, seperti
Coco Elysses-Hevia, Peter Saxe, Ramsey Lewis, John Faddis, Dick Hyman, Ryan
Cohen, dan Ernie Adams, juga dia ikuti. Ade juga dipercaya sebagai pianis tetap
pada acara musik Farnsworth School di Chicago dan pengisi tetap Jazz Links Jam
Session (Jazz Institute of Chicago) di Chicago Cultural Center.
Berbagai pengalaman itu pula yang menempa permainan jazz Ade
hingga seperti sekarang. Kemampuannya membuat terkagum-kagum orang yang
menyaksikan permainan piano Ade. “Didi A.G.P. (aranger musik, Red) bilang,
kemampuan Ade itu setara lulusan S-2,” kata Endang lagi, lantas tertawa.
Saat keluarga Ade balik ke Jakarta pada 2008, pengalaman
musiknya sudah begitu banyak. Tak mengherankan saat tampil dalam sejumlah
kegiatan musik Ade selalu menjadi yang terbaik. Misalnya, dia meraih medali
emas untuk DKI Jakarta sebagai grup band terbaik (The Spirit) dan pemain
keyboard terbaik pada lomba anak berbakat se-Indonesia di Malang, Jawa Timur,
Mei 2009. Dia pun ikut serta dalam Java Jazz Festival pada Maret 2010.
Menurut sang bunda, Ade tergolong cowok yang cukup ramai.
ABG yang kini duduk di kelas X SMA SLB Lebak Bulus itu tak segan curhat kepada
mamanya mengenai segala hal. Tak hanya tentang musik, tetapi juga soal perasaan
sukanya kepada lawan jenis.
Tetapi, dengan orang lain, Ade cukup pendiam. Dia tak banyak
berbicara. Saat ditanya, jawabannya hanya sepatah” dua patah kata. Itu pun
diuncapkan setelah beberapa lama terdiam. Kebanyakan Ade menjawab dengan
senyuman.
Meski demikian, Ade adalah remaja yang cukup senang guyon.
Ketika asyik menikmati permainan jazz di Black Cat Cafe di Arcadia, Plaza
Senayan, Ade tak segan menampilkan kemampuannya menirukan terompet dengan mulut
sambil menggoyang-goyangkan badan, menikmati permainan jazz dari home band.
Endang bersyukur, Ade bisa mendapatkan bakat luar biasa
tersebut. “Saya ingin anak-anak tunanetra yang lain juga bisa menjadi seperti
Ade. Mereka bisa menjadi sesuatu, tidak hanya dikasihani,” tandas dia.
(*/c4/ari)
Referensi: Jawa Pos National Network
Sumber : http://www.indonesiaberprestasi.web.id/kisah-motivasi/ade-wonder-irawan-pianis-tunanetra-kelas-dunia/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar